Rupiah Dekati Level Rp 18.000 Per Dolar AS, Ini Skenario Terburuk hingga Akhir 2026

Ringkasan TEI
Nilai tukar rupiah terus melemah dan mendekati Rp 18.000 per dolar AS, ditutup di Rp 17.903 per dolar AS pada Jumat (25/9/2026). Ekonom Syafruddin Karimi menyebut tekanan ini berasal dari tingginya suku bunga acuan Amerika Serikat, dolar yang kuat, dan harga minyak mentah di atas US$ 100 per barel. Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan di 5,75% untuk menjaga stabilitas nilai tukar, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi. Skenario terburuk memprediksi rupiah bisa mencapai Rp 18.200-Rp 18.400 per dolar AS jika tekanan eksternal terus berlanjut.
Kenapa Ini Penting
Pelemahan rupiah bisa membuat harga barang impor, termasuk bahan baku, menjadi lebih mahal, yang berpotensi menaikkan harga belanja kebutuhan sehari-hari. Jika rupiah terus melemah, biaya cicilan utang dalam dolar AS juga bisa meningkat, meskipun dampaknya tidak langsung terasa pada tabungan atau pekerjaan secara umum.